Kita semua pasti pernah mengalami rasa
deg-degan. Di mana tiba-tiba jantung kita rasanya seperti berdetak secara
berbeda dari biasanya. Hal itu umumnya terjadi pada saat kita menghadapi
pengalaman yang berbeda dengan biasanya. Utamanya pengalaman baru.
Pada saat melihat pengumuman hasil tes tulis
ataupun tes wawancara di perusahaan idaman, pada saat melamar gadis idaman,
pada saat menanti kelahiran anak pertama yang tentu saja juga menjadi anak
idaman. Pokoknya ketika kita sedang menunggu hal-hal yang menjadi idaman itulah
biasanya jantung kita berdetak secara berbeda dengan kebiasaannya, sehingga
timbul rasa deg-degan itu tadi. Terlebih jika idaman itu masih baru.
Dalam dunia perburunganpun rupanya
peristiwa idaman yang masih baru juga membuat jantung kita menjadi deg-degan. Pak
Syam Klaten telah mengalami sendiri tentang hal itu.
Selama ini pak Syam kan banyak dikenal
sebagai breeder burung jalak bali. Coba saja googling dengan key word : pak
syam penangkar jalak bali atau penangkar jalak bali klaten, maka akan muncul
banyak artikel yang mengekspos aktivitas penangkaran pak Syam.
Setelah sukses di penangkaran burung
jalak bali, rupanya diam-diam pak Syam merambah penangkaran burung cucak rawa. Pak
Syam melakukan ekspansi dari breeding jalak bali ke breeding cucak rawa. Nah di
breeding cucak rawa inilah pak Syam mengalami deg-degan tadi. Cucak rawa oh
cucak rawa . . .
Seperti telah disinggung di depan bahwa,
deg-degan biasanya muncul ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang menjadi
idaman, terutama idaman yang pertama. Nah hal itulah yang dialami pak Syam,
yaitu saat-saat menunggu telur pertama burung cucak rawanya.
Ketika mengetahui burung cucak rawanya
unjal sarang, hati pak Syam terasa berbunga-bunga. Ketika memergoki cucak rawa betinanya
mendekam di sarang hatinya tambah riang gembira tiara tara. Dia langsung
membayangkan panen abangan burung cucak rawa dari kandangnya.
Sudah unjal sarang ? Berarti sebentar
lagi burung cucak rawanya akan bertelur dong ? dengan deg-degan pak Syam
menunggu bukti. Sehari-dua hari ternyata burungnya belum bertelur. Pagi, siang
dan sore burungnya terus dipantau dengan tetap deg-degan tentunya.
Hari ketiga pemberian pakan burung cucak
rawanya terus ditingkatkan. Jangkriknya diperbanyak, pisangnya diselang seling
dengan pepaya, tulang sotongnya dicek untuk memastikan kesediaan stok calsium
pembentuk cangkang telur dalam tubuh sang indukan cucak rawa tercukupi dengan
baik.
Hari-hari pak Syam diliputi dengan
suasana riang gembira meski tetap bercampur rasa deg-degan. Suasana kandang cucak
rawa juga tambah meriah, karena menjelang bertelor sepasang cucak rawa akan
berkicau terus sepanjang hari, tak kenal berhenti. Begitulah ritual yang konon
selalu mengiringi mbrojolnya telur si cucak rawa.
Dan akhirnya hari yang dinantikan itupun
tiba. Dengan hati yang masih deg-degan berbaur dengan rasa penasaran yang amat
sangat, pak Syam mengintip ke dalam kandang burung cucak rawanya . . . jreeng-jreeeng
. . . mata pak Syam tertumbuk pada sebuah benda berbentuk oval berwarna coklat
bening dengan bintik-bintik coklat gelap tergeletak di lantai kandang. Alhamdulillah
burung cucak rawaku sudah nelor. Meski nelornya di lantai kandang. Maklum ini
telur pertama. Kalau bertelur yang kedua, ke tiga dan seterusnya dia insya
Allah sudah mapan di tempat yang bener. Dia nelor di sarang yang sudah
disediakan.
Begitulah deg-degan itu akhirnya terbayar
dengan mbrojolnya telur dari indukan cucak rawa. Puaslah sudah, karena sesudah
melalui penantian panjang akhirnya yang ditunggu datang juga. Alhamdulillah cucak
rawaku sudah nelor, ucap pak Syam dengan mantab. (Pak Syam penangkar burung jalak bali dan burung cucak rawa Klaten, HP.
081280543060 )


